KETUA BPD TANJUNG BARU ANALOGIKAN DESANYA SEPERTI JAKARTA

Sukses Radio 23 Maret 2017 0
KETUA BPD TANJUNG BARU ANALOGIKAN DESANYA SEPERTI JAKARTA

Agenda reses anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) menjadi ajang yang tepat bagi masyarakat untuk menyampaikan usul, saran dan masukan kepada wakil mereka yang duduk di lembaga legislatif.

Karena biasanya, aspirasi masyarakat berupa usul, saran dan masukan ini bisa ditampung secara maksimal.

Momen ini jugalah yang tidak disia-siakan oleh warga Desa Tanjung Baru Kecamatan Baturaja Timur Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), saat menghadiri undangan reses perorangan yang dilakukan anggota DPRD asal daerah pemilihan (Dapil) I, Dra Hj Erlina Bachtiar, Selasa (21/3).

Usul permintaan sarana prasarana umum seperti jalan, siring hingga penerangan, masih menjadi persoalan utama masyarakat untuk dapat direalisasikan.

Seperti halnya yang disampaikan ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Tanjung Baru, Johan Eka Wijaya. Masalah musiman, berupa banjir, masih menjadi persoalan klasik di wilayah desanya, utamanya di sekitaran dusun II Tanjung Baru.

Ini menurutnya diakibatkan ketiadaan siring di sepanjang Jl A Yani di RT 02 dusun II, mulai dari Masjid As-Suada hingga menuju Jembatan (Tanjung Baru).

Pihaknya mengaku sudah dua kali mengajukan pembangunan siring di areal tersebut. Tapi tak pernah ada eksekusi. Sementara, saat hendak diajukan melalui dana desa, terbentur/ terkendala dengan dana yang tidak mencukupi.

“Sudah ada perbaikan siring sebelumnya, tapi kami lihat siring itu masih tidak bisa menampung debit air hujan. Sehingga kondisi itu mengakibatkan banjir di jalan dan masuk ke rumah warga,” katanya.

Ia pun lantas menganalogikan banjir musiman yang terjadi di wilayah dusun II Tanjung Baru itu dengan banjir yang kerap terjadi di DKI Jakarta, yang salah satu sebabnya lantaran siring menyiring. Kalau di Jakarta siringnya tersumbat, kalau di Tanjung Baru justru siringnya belum ada sebagian.

“Dusun 2 saat ini bisa dianalogikan dengan DKI Jakarta. Dari Masjid As-Suada, air hujan kerap mengalir ke dusun 2. Sedangkan kami lihat keadaan, siring yang ada tak bisa nampung debit air hujan yang tinggi,” sebutnya.

Lebih jauh ia menyebut, seperti ada ada semacam lempar tanggung jawab mengenai permintaan warga yang ingin dibangunkan siring disana.

Pasalnya, dirinya mengaku pernah berkomunikasi dengan pemborong, mereka memberi alasan bahwa siring disana tak bisa dibangun lantaran berada di ruas jalan milik provinsi. Karena itulah, Pemkab tidak bisa garap lantaran merasa itu kewajiban Pemerintah provinsi.

Menurut Johan, sedikitnya ada sekitar 150 meter panjang di wilayah itu yang perlu dibangunkan siring.

Cuma memang ada sedikit hambatan jika Pemerintah hendak membangun siring disana, dimana ada sekitar 40 meter yang kondisinya terdapat batu karang kristal. Dalam artian tingkat kekerasannya, sangat keras. Dan tentu ini perlu kerja ekstra dan dana ekstra.

“Yang jelas, kalau tidak segera ditindaklanjuti, bisa – bisa beberapa tahun mendatang terjadi banjir keseluruhan di dusun 2 Tanjung Baru ini,” tandasnya.

Selain soal siring, pihaknya juga meminta pada anggota DPRD agar dapat menyelesaikan soal minimnya penerangan lampu jalan.

Seperti halnya saat masuk ke wilayah dusun I hingga arah Gudang Garam Ogan IV. Dan beberapa wilayah lainnya.

“Disana kalau malam gelap. Dan kalau kami perhatikan kondisi tersebut menimbulkan kerawanan. Jadi tolong ini diperhatikan,” pintanya.

Anggota DPRD OKU asal Dapil I, Hj Erlina Bachtiar menyatakan, pihaknya akan menampung segala aspirasi yang disampaikan masyarakat tersebut untuk dapat ditindaklanjuti.

Namun ia berharap masyarakat dapat bersabar, karena semua yang diusulkan itu berkaitan dengan anggaran daerah. Sedangkan di sisi lain, keuangan daerah tengah defisit.

“Ini kami tampung dan akan kami sampaikan ke pimpinan untuk selanjutnya dibawa ke paripurna. Dan mudah – mudahan dapat dieksekusi Pemerintah,” ujarnya.

Senada disampaikan Medi Idris. Politis PPP ini menyatakan sudah menampung dan mencatat apa yang menjadi usulan masyarakat tersebut. “Insya Allah bisa direalisasikan. Tapi tetap ada skala prioritas,” tandasnya singkat.

 

Sumber: Muhammad Wiwin-RMOL

Leave A Response »